Mewaspadai Virus Zika

Semenjak satu tahun terakhir, dunia kesehatan digemparkan oleh wabah infeksi virus Zika. Sebenarnya, penyakit ini pertama kali mewabah tahun 2007 di Kepulauan Pasifik, dimana gejala yang muncul adalah demam disertai ruam-ruam kemerahan, mata merah (konjungtivitis), nyeri-nyeri sendi, dan pemeriksaan serologi dengue memberikan hasil negatif. Setelah itu, virus ini terus menyebar dan kembali mewabah tahun 2013-2015 di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Berdasarkan studi retrospektif, ternyata infeksi Zika berkaitan erat dengan kejadian penyakit gangguan saraf (Sindrom Gullian-Barre) dan gangguan pembentukan otak pada janin (Microcephaly). Besarnya dampak yang diakibatkan oleh penyakit ini membuat badan kesehatan dunia, WHO menetapkan Zika sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC). Sehingga, meskipun penyakit ini belum mewabah di Indonesia, tetapi kita harus siap siaga menghadapinya karena penyebarannya yang begitu cepat.

Mengenal virus Zika

Virus Zika adalah virus yang ditransmisikan oleh nyamuk, satu golongan dengan virus demam berdarah (dengue), yang banyak ditemukan di Indonesia, virus demam kuning, Japanese encephalitis, atau West Nile virus (ketiganya lebih jarang ditemukan di Indonesia). Nyamuk yang menularkan virus Zika juga sama seperti demam berdarah, yaitu Aedes aegypti.

Virus ini mendapatkan namanya karena pertama kali ditemukan pada tahun 1947 di pedalaman hutan Zika, Afrika Tengah. Kejadian infeksi virus Zika pada manusia pertama kali dilaporkan tahun 1954, tetapi baru mulai mewabah pada tahun 2007 di kepulauan Yap, Micronesia. Meskipun sebagian besar penularan melalui vector nyamuk, ternyata virus ini juga dapat menular dari manusia ke manusia (transmisi horizontal) melalui transfusi, transplantasi, atau hubungan seksual.

Kasus infeksi virus Zika di Indonesia belum banyak diketahui, karena diagnosisnya cukup sulit. Namun, di Jambi sekitar tahun 2014-2015, pada saat terjadi wabah demam berdarah, dari 210 pasien yang dicurigai demam berdarah ternyata 1 diantaranya positif terinfeksi virus Zika.

Gejala dan tanda infeksi virus Zika

Seperti halnya penyakit virus pada umumnya, tidak ada gejala khas ketika seseorang terinfeksi virus Zika. Bahkan, sebagian penderita tidak memberikan gejala apapun (asimtomatik) sehingga tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus. Masa inkubasi virus ini adalah 3-12 hari setelah terpapar pertama kali, kemudian memberikan gejala berupa ruam, demam, konjungtivitis, nyeri-nyeri tulang dan otot, lemah, dan sakit kepala. Gejala ini berlangsung antara 4-7 hari.

zikasymSelain gejala tersebut, ternyata infeksi virus Zika juga dikaitkan dengan gangguan saraf berupa kelemahan otot-otot tubuh, yaitu sindrom Gullian-Barre. Namun, gejala itu pun tidak terjadi pada semua pasien. Pada ibu yang sedang mengandung, infeksi virus Zika berkaitan erat dengan kecacatan janin, berupa pembentukan otak yang tidak sempurna (microcephaly).

microSampai saat ini, pemeriksaan untuk memastikan infeksi virus Zika masih terbatas pada Rumah sakit dan laboratorium yang ditunjuk oleh kementrian kesehatan. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk pasien yang diduga terinfeksi virus Zika. Seseorang dicurigai terinfeksi Zika apabila terdapat gajala ruam di kulit, disertai dua atau lebih tanda dan gejala dibawah ini:

  • Demam, biasanya < 38,5 0C
  • Konjungtivitis (mata merah)
  • Nyeri Sendi
  • Nyeri otot
  • Bengkak di sekitar sendi

DAN

Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah terjangkit Zika selama 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Pengobatan dan pencegahan

Tidak ada pengobatan khusus bagi seseorang yang sudah positif terinfeksi virus Zika. Virus ini bersifat self limiting, artinya akan sembuh sendiri dengan sistem imun tubuh pasien. Pengobatan yang dilakukan hanya bersifat supportif untuk mengurangi keluhan-keluhan yang dirasakan pasien, seperti obat penurun panas, cairan yang cukup, istirahat cukup, dan lainnya.

Upaya pencegahan mungkin menjadi senjata utama dalam memerangi virus Zika. Pengendalian vector, dalam hal ini adalah nyamuk Aedes aegypti, perlu dilakukan seperti halnya dalam mengangani wabah demam berdarah. Gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur), memasang kassa kawat, menggunakan kelambu, mememelihara hewan-hewan pemangsa jentik nyamuk, sampai menggunakan obat anti serangga, dapat digunakan dengan harapan memutus penularan melalui vektor nyamuk.

Pada kasus dimana seseorang baru saja bepergian ke daerah endemis virus Zika, maka dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi (kondom). Perhatian yang paling besar adalah pada wanita hamil, dimana perlindungan ekstra dari gigitan nyamuk perlu dilakukan. Diantaranya adalah selalu menggunakan baju panjang, tidur dalam kelambu, dan pemasangan jarring anti nyamuk pada jendela atau pintu.

Kesimpulan

Wabah infeksi virus Zika menjadi penting, karena dampaknya yang sangat merugikan terutama pada janin. Meskipun belum banyak ditemukan di Indonesia, upaya pencegahan dan pengenalan gejala infeksi virus Zika sudah harus mulai dilakukan mengingat penyebarannya yang sangat cepat dan vektor penyakit ini sangat banyak ditemukan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s