Hepatitis B perlukah diobati segera?

Hepatitis adalah penyakit peradangan hati (liver). Bisa disebabkan karena obat, penyakit autoimun (baca tulisan Saya sebelumnya.red), lemak, atau infeksi. Sebenarnya banyak mikroorganisme yang dapat menginfeksi hati, namun yang paling dikenal adalah virus hepatitis. Ada berbagai virus hepatitis yang diketahui saat ini, dan mereka adalah virus yang berbeda satu sama lain. Dinamakan berurutan berdasarkan urutan penemuannya saja. Dari sekian banyak hepatitis (A, B, C,D, E, G, TT), yang akan Saya angkat saat ini adalah hepatitis B. Hepatitis B adalah penyakit akibat virus dengan nama yang sama. Virus ini ditemukan sekitar tahun 1960an oleh dr. Blumberg. Virus ini ditularkan malui cairan tubuh seperti darah, hubungan seksual, atau ditransmisikan dari ibu ke anak. Bila terkena virus ini maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada seorang pasien, menjadi hepatitis B akut atau hepatitis B kronik (menahun). Hampir 30% penduduk dunia pernah terpapar oleh virus hepatitis B, dan sekitar 400 juta diantaranya menjadi pengidap hepatitis B kronik.

Hepatitis B akut, sebagaimana penyakit viral pada umumnya, biasanya memberikan gejala yang tidak khas seperti demam, nyeri-nyeri di persendian, dan pegal otot. Namun ada pula gejala akut peradangan hati seperti nyeri perut kanan atas, kuning di tubuh dan mata, air kencing menjadi pekat, dan feses menjadi dempul, sama seperti hepatitis A. Pada pemeriksaan laboratorium juga akan didapatkan AST dan ALT yang meningkat tinggi mencapai ratusan. Sebagian besar pasien dengan hepatitis B akut akan sembuh dan membentuk antibodi terhadap virus hepatitis B, sehingga bila suatu saat terpapar lagi dengan virus yang sama maka tubuh dapat langsung menyingkirkannya. Namun pada sebagian kecil pasien, virus hepatitis B ini tidak dapat dieradikasi oleh tubuh dan menetap, meskipun tidak menimbulkan gejala. Inilah yang disebut sebagai hepatitis B kronik. Kebanyakan orang tidak mengetahui dirinya mengidap hepatitis B, sampai secara tidak sengaja ditemukan misalnya saat medical check up atau hendak donor darah. Penyebabnya ya itu tadi, gejalanya yang tidak khas, seperti orang sakit flu biasa. Pasien dengan hepatitis B kronik diketahui bila dalam darahnya ditemukan virus hepatitis B, biasanya yang dideteksi adalah HBsAg. Perjalanan penyakit hepatitis B kronik, bila tidak diobati akan mengakibatkan fibrosis hati, sirosis, dan kanker hati. Artinya apa? Pasien hepatitis B kronik seringkali tidak memiliki gejala apapun, sampai terjadi gagal hati (sirosis) atau kanker hati. Apabila sudah sampai pada titik tersebut maka pengobatan akan semakin sulit. Saya tidak akan membahas banyak tentang sirosis atau kanker hati karena cukup panjang.

penyakit-hepatitis-b-perawatanNah, sekarang bagaimana bila ditemukan virus hepatitis B pada tubuh kita? Kebanyakan orang bahkan memeriksakannya berkali-kali karena tidak yakin, takut labnya salah, semoga hilang, dsb. Tidak salah, silahkan saja. Bila memang benar terinfeksi hepatitis B maka hasilnya tidak akan berubah. Berikutnya yang harus diketahui adalah, hepatitis B kronik memiliki beberapa fase perkembangan yaitu immune tolerant, immune clearance, pengidap inaktif, dan reaktivasi. Fase immune tolerant ditandai dengan ALT yang normal, meskipun virusnya banyak dalam tubuh. Artinya, virus tersebut tidak menimbulkan peradangan hati yang signifikan. Peradangan terjadi karena adanya perlawanan dari sistem kekebalan tubuh kita terhadap virus hepatitis B. Ibaratnya ada peperangan antara sistem imun dengan virus, maka kota yang porak poranda itu adalah jaringan hati. Apabila telah terjadi peradangan itulah yang disebut immune clearance. Berikutnya bila sistem imun kita yang menang, maka virus hepatitis B tidak serta merta hilang, tetapi akan turun jumlahnya dalam tubuh dan peradangan hati, yang tergambarkan oleh ALT, akan membaik. Dalam perjalanannya, pasien inaktif dapat mengalami reaktivasi dimana virus kembali banyak jumlahnya dan peradangan hati kembali terjadi. Apakah semua ini bergejala? Tidak selalu, bahkan ketika peradangan hati terjadi pun pasien bisa saja tidak merasakan gejala apa-apa. Itulah sebabnya, bila tidak diobati, peradangan hati yang terjadi terus menerus akhirnya akan menimbulkan kegagalan hati (sirosis.red).

Lalu apa yang harus dilakukan? Ketika sudah tegak bahwa Anda menderita hepatitis B kronik, maka segeralah ke dokter, bisa ke Internist atau konsultan Hepatology. Biasanya akan dilakukan pemeriksaan lab tambahan untuk mencari tahu ada di fase manakah Anda. Pengobatan hanya dilakukan pada fase immune clearance sampai tercapai respon virologis, artinya virus sama sekali tidak terdeteksi. Jadi pada fase immune tolerant tidak ada pengobatan spesifik hepatitis B yang diberikan. Ketika HBsAg positif dengan ALT yang normal maka tidak perlu mendapatkan obat-obatan antivirus. Kenapa tidak dihabisi saja virusnya dari sekarang? Hmmm, pemikiran yang masuk akal, tetapi pada kasus hepatitis B, berdasarkan berbagai studi, pengobatan yang diberikan pada fase immune tolerant lebih banyak efek samping dibandingkan manfaatnya. Maka yang harus dilakukan adalah memonitor apakah telah terjadi peradangan hati atau belum, yaitu dengan memeriksakan ALT setiap bulan. Oh iya, selain pemeriksaan laboratorium, yang tidak kalah penting adalah pemeriksaan USG hati, fibroscan, atau biopsi hati. USG penting dilakukan setiap 6 bulan sekali, karena meskipun biasanya tumor hati terjadi setelah sirosis, ternyata pada kasus hepatitis B tumor hati dapat saja muncul meskipun belum terjadi sirosis! Sementara fibroscan atau biopsi hati perlu dipertimbangkan pada mereka dengan riwayat penyakit sirosis atau tumor hati di keluarga. Bisa saja ALT normal tetapi hatinya sudah mengalami fibrosis, maka ini pun sudah dapat diberikan terapi antivirus. Apakah pada fase ini boleh minum obat-obatan untuk mengurangi peradangan hati, atau vitamin hati, atau obat herbal apapun itu? Tidak boleh, karena hal itu akan menutupi peradangan yang terjadi dan akibatnya pengobatan akan terlambat diberikan. Jadi intinya, pada fase immune tolerant yang terpenting adalah monitoring.

frame-sgpt

Bila masuk pada fase immune clearance, maka disinilah saatnya untuk memulai terapi. Ada berbagai obat antivirus untuk hepatitis B. Mulai dari obat minum sampai obat yang disuntikan setiap minggu. Pilihan-pilihan obat itu memiliki kerugian dan keuntungan masing-masing. Tentunya pemilihan terapi yang akan diberikan harus didiskusikan bersama dokter. Berapa lamakah pengobatannya? Semua tergantung dari respon tubuh, paling cepat satu tahun, paling lama bisa seumur hidup. Targetnya tentu virus tidak terdeteksi sama sekali. Permasalahannya, virus bukanlah mahluk yang bodoh. Dia tidak akan berdiam diri ketika ada obat yang masuk. Virus dapat mengubah berbagai komponen tubuhnya sehingga menjadi kebal terhadap salah satu obat-obatan. Hal ini yang seringkali membuat pengobatan hepatitis B lama, pasien menjadi hilang motivasi, bosan, dan akhirnya gagal terapi karena tidak teratur minum obat. Akhirnya pasien jatuh dalam kondisi sirosis dan tumor hati.

hepatitis-b-vaccine-hbv-needle-bottle-47711026

Kabar baiknya, virus hepatitis B telah memiliki vaksin. Artinya, tidak perlu menunggu untuk sakit dulu, maka kita dapat memiliki antibodi terhadap virusnya. Vaksinasi hepatitis B juga menjadi vaksin standar pada anak-anak di Indonesia yang baru lahir. Apakah perlu vaksin ulang pada saat dewasa? Antibodi anti hepatitis B, atau kalau di cek di lab namanya anti HBs, memiliki sistem memori. Artinya, asalkan sudah terdeteksi meskipun dalam jumlah kecil maka sebenarnya tidak perlu vaksinasi ulang. Pemeriksaan anti HBs ini penting bagi mereka yang pekerjaannya berisiko terinfeksi hepatitis B seperti pekerja laboratorium, suster, dokter, petugas donor darah. Diluar itu, silahkan saja karena kita tidak pernah tau kapan dan bagaimana dapat terinfeksi. Jadi bagi mereka yang tidak memiliki anti HBs, sebaiknya dilakukan vaksinasi hepatitis B.

Bagaimana bila pengidap hepatitis B yang hamil? Ya, ini menjadi permasalahan khusus karena penularan terhadap janin harus diputus. Biasanya selain ibunya diobati, maka perlu diberikan Imunoglobulin anti hepatitis B (HBIg) pada janin beberapa saat setelah dia lahir, selain juga vaksinasi hepatitis B. Yang jelas pada kasus-kasus kompleks seperti ini perlu kerjasama berbagai pihak.

Semoga dapat menambah informasi, Salam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s