Diabetes dan Puasa Ramadhan

Tidak terasa kita sudah memasuki kembali bulan Ramadhan, bulan dimana sebagian besar penduduk Indonesia menjalankan puasa sebulan penuh. Sering muncul pertanyaan mengenau pengaruh puasa terhadap penderita diabetes, terutama mengenai penggunaan obat anti-diabetik. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim dan termasuk dalam 10 negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia, maka dokter Indonesia memang perlu mengedukasi pasien-pasien diabetesnya agar terhindar dari komplikasi selama menjalankan ibadah puasa. Ibadah di bulan Ramadhan begitu pentingnya bagi umat muslim, sehingga sebagian besar akan tetap melaksanakannya meskipun tidak direkomendasikan oleh dokter. Risiko komplikasi yang sering terjadi adalah hipoglikemia, meskipun bisa juga terjadi krisis hiperglikemia, seperti koma ketoasidosis. Di sisi lain, puasa Ramadhan juga dapat memberikan dampak positif, seperti gaya hidup yang teratur, penurunan berat badan, berhenti merokok, dan kendali gula darah yang baik. Manfaat ini akan didapatkan pasien jika mengikuti anjuran-anjuran dokter tentunya. Sayangnya, sebagian besar pasien justru menolak untuk berkonsltasi dengan dokter selama bulan Ramadhan, hmmm…

doctor-371533

Pada bulan Ramadhan, bukan hanya pola makan yang berubah, namun pola tidur juga cenderung menjadi lebih pendek di malam hari. Perubahan siklus ini sedikit banyak berdampak pada sekresi hormon kortisol dan toleransi glukosa di minggu pertama puasa, namun biasanya kembali normal pada minggu berikutnya. Kebanyakan orang berpikir dengan berpuasa pasti akan menurunkan berat badannya. Jangan yakin dulu, ternyata hal itu tidak akan terjadi bila kita berbuka puasa dengan berlebihan. Sehingga, pola makan saat berbuka dan sahur juga sangat mempengaruhi berat badan, terlebih lagi aktifitas fisik biasanya tidak sebanyak saat tidak berpuasa. Saat berpuasa, tubuh akan menggunakan cadangan-cadangan energinya yang disimpan di hati dan otot untuk menjaga agar gula darah tetap stabil. Hal ini penting, karena sebagian besar sel tubuh kita membutuhkan glukosa untuk dapat berfungsi. Apabila cadangan tersebut sudah habis, maka digunakanlah cadangan lain berupa lemak, namun menghasilkan zat sampingan berupa keton yang bersifat asam dan dapat menganggu keseimbangan metabolisme dalam tubuh. Biasanya cadangan glukosa memang habis pada saat menjelang maghrib atau berbuka, atau bisa lebih cepat lagi bila kita tidak sahur. Maka masuk akal jika ada hadist yang memerintahkan untuk meng akhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Pada penderita diabetes, akibat defisiensi maupun resistensi insulin, pelepasan cadangan glukosa ini terjadi dengan lebih cepat dan lebih masif, sehingga akan lebih mudah mengalami hiperglikemia, ketoasidosis, dan hipoglikemia. Pasien dengan hiperglikemia juga cenderung mengalami dehidrasi dan trombosis, sehingga menambah risiko morbiditas. Komplikasi-komplikasi tersebut terjadi apabila kondisi diabetes sudah lanjut dan belum terkontrol dengan baik sebelum puasa, sehingga respon fisiologis tubuh banyak yang sudah terganggu. Berdasarkan hal itu, maka pasien diabetes yang akan berpuasa sebaiknya dinilai dulu risikonya (sangat tinggi, tinggi, ringan-sedang).

Termasuk dalam risiko sangat tinggi adalah:
1. riwayat hipoglikemia berat dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
2. riwayat  krisis hiperglikemi dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
3. riwayat hipoglikemia berulang dan atau tidak disadari
4. diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol
5. sakit akut
6. hamil
7. gagal ginjal stadium 4/5 atau sudah menjalani cuci darah rutin
8. komplikasi makrovaskuler yang lanjut
9. usia lanjut dengan penyakit tertentu

Risiko tinggi:
1. diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol
2. diabetes tipe 1 yang terkontrol
3. diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin dosis multipel
4. gagal ginjal stadium 3
5. komplikasi makrovaskuler yang stabil
6. pasien dengan penyakit komorbid
7. pasien yang bekerja fisik berat
8. menggunakan obat-obat yang dapat mengganggu fungsi kognitif

Risiko ringan-sedang:
1. pasien diabetes tipe 2 yang terkontrol dengan OHO dan atau insulin basal

Rekomendasi untuk boleh berpuasa atau tidak sebenarnya terkait dengan keamanan bagi pasien itu sendiri. Pasien dengan risiko sangat-tinggi sebaiknya tidak berpuasa. Namun, kembali lagi, bahwa pilihan untuk berpuasa atau tidak ada pada pasien. Tugas dokter adalah mengedukasi dan meng-support pasien, dengan catatan pasien sudah sadar betul dengan risiko-risiko yang dapat terjadi. Penilaian risiko diatas juga sebaiknya dilakukan dalam 3 bulan terakhir sebelum mulai puasa, sehingga bukan tidak mungkin pasien yang tadinya risiko tinggi bisa berubah menjadi risiko ringan-sedang saat menjelang Ramadhan. Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk dapat memeriksa gula darah secara mandiri setiap hari. Saat ini alat pemeriksa gula darah sudah banyak tersedia dan penggunaannya pun mudah. Catatan lainnya adalah, apabila terjadi komplikasi maka pasien harus membatalkan puasanya. Apalagi bila komplikasi ini terjadi berulang selama puasa, berarti pasien memang belum siap untuk menjalankan ibadah puasa.

Pasien harus membatalkan puasanya bila:
1. GD <70 mg/dL atau > 300 mg/dL
2. muncul gejala-gejala hipoglikema, hiperglikemia, dehidrasi, atau penyakit akut lain

Sama halnya seperti saat tidak berpuasa, pengendalian gula darah tidak hanya ditentukan oleh obat-obatan farmakologis, tetapi juga pola diet dan aktivitas fisik. Prinsip 3J (jumlah, jenis, dan jadwal) masih tetap diterapkan pada saat berpuasa. Bagilah kebutuhan kalori sedikit lebih banyak pada saat berbuka (sahur 30-40%, buka 40-50%, snack 10-20%). Perhitungan kalori ini tentunya disesuaikan dengan IMT pasien. Jenis makanan yang mengandung karbohidrat tetap lebih tinggi (45-50%), diikuti protein (20-30%) dan lemak (20-35%). Pilihlah karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, namun tinggi serat (roti gandum, kacang, beras merah) dan tetap konsumsi buah, sayur, atau salad. Hindari makanan yang terlalu manis, gorengan, atau makanan dengan minyak berlebihan. Minum air yang cukup, hindari kafein dan minuman-minuman berpemanis. Bagaimana dengan olah raga? Saat bulan puasa, penderita diabetes memang tidak dianjurkan untuk olah raga berat, cukup olah raga ringan. Shalat Tarawih juga termasuk dalam aktivitas lho…

shalat-tarawih-ramadhan

Lalu bagaimana dengan obat-obatan? Sebenarnya ini harus dengan rekomendasi dokter. SANGAT TIDAK dianjurkan untuk mengatur obat-obatan antidiabetik Anda sendiri. Ada beberapa obat yang tidak perlu penyesuaian dosis (seperti metformin dan acarbose), tetapi adapula yang memang memerlukan modifikasi dosis (seperti golongan sulfonylurea dan insulin). Pasien-pasien diabetes hendaknya memeriksakan gula darahnya setiap hari. Untuk yang berisiko ringan-sedang cukup 1-2x sehari (sebelum berbuka dan sahur, atau bila perlu siang hari), sementara pasien dengan risiko tinggi atau sangat tinggi dianjurkan untuk memeriksa gula darah beberapa kali sehari, terutama pada saat-saat siang hari atau menjelang berbuka. Pasien yang mengeluhkan gejala hipoglikemia juga harus segera memeriksa gula darahnya.
Dengan kerjasama antara pasien, keluarga, dan dokter, Insya Allah tidak hanya pahala, tetapi juga manfaat ibadah puasa akan dirasakan oleh para diabetisi (pasien diabetes.red) dan terhidar dari komplikasi yang membahayakan. Edukasi dan penilaian awal sebelum menjalankan puasa sangat penting dan harus dialkukan oleh setiap diabetisi yang akan berpuasa. Semoga dapat membantu…Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s